K u a s a

Oleh Aksara Kauniyah



Barangkali, lantaran watak takhta yang memang selalu begitu. Sengit, degil, ricuh, licik, cadas, sarat ambisi, banal, paranoia. Rotasinya cuma beredar di situ.


Shah Jehan naik singgasana usai menaklukkan perasaannya sendiri: ia mengudeta sang ayah dan membinasakan semua saudara sekandung demi mengamankan singgasana. Sejak itu kendali kuasa tegak, tapi dengan cemas yang gaduh dan perang bertalu-talu. Ketika isterinya tewas, ia membangun kemegahan demi sepetak ikhtiar buat mengenang, Taj Mahal. Dua puluh dua tahun tarikh pembangunan, dengan tak kurang 22000 pekerja yang koyak, dan pajak melonjak. Konon, sang arsitek dicungkil matanya, ditebas pula sepasang tangannya. Sang sultan tak ingin ada bangunan serupa Taj Mahal di tempat lain—dan ia membinasakan kecurigaan itu dengan jalannya sendiri: membutakan dan melumpuhkan si arsitek malang.

Sementara waktu bergegas. Anak-anak dari rahim Mumtaz Mahal, yang rasa-rasanya baru kemarin dilahirkan, saling tebas. Semua putera Shah Jehan bertikai, merasa paling layak jadi pewaris Dinasti Moughal. Aurangzeb, putera keempat yang menekuni titah agama dengan taat, mengulang laku Jehan. Ia sukses menjungkal sukma seluruh saudara sekandung, dan mengurung sang ayah, sang patriarkh, di ujung menara hingga maut mengetuk pintu. Ia berkuasa, tapi dengan kesepian yang tak pernah surut.

Agak-agaknya kekuasaan terlalu risih bersekutu dengan moral sejak dulu. Atau barangkali, memang akan selamanya heboh dan tak pernah akur. Nero dari Romawi tega meracuni ayah angkatnya, Claudius I, dan memutus nyawa ibu, saudara, hingga isterinya sendiri, dan para pemuka Kristen yang dicemaskan mengancam. Amangkurat I dari Mataram menamatkan tak kurang 6000 kauman dalam tempo kurang dari 60 menit. Puteranya, Amangkurat II, merobek dada Raden Trunojoyo dengan sebilah parang, mencincang hatinya, dan memerintahkan lurah dan bupati menelan mentah-mentah.

Sementara. Tak kurang lima ratus ribu diumumkan pemerintah. Dua juta, kabar media massa. Tiga juta, tukas seorang jenderal. Adalah angka-angka yang bertebaran seputar jumlah sukma yang terjungkal dalam tragedi 1 Oktober empat puluh dua tahun silam. Dan kita paham dengan batas paling sahaja, yang sedang dipentaskan adalah drama tentang ambisi dan paranoia. Tentang keserakahan dan kelicikan. Tentang perampasan dan penaklukan. Ia yang tiba-tiba terjerembab ke atas tampuk tak pernah merasa perlu bertanya soal alasan moral kekuasaan dan apa perlunya menyusun draft kematian banyak orang. Kekuasaan yang lahir tiba-tiba dari sebuah pergolakan akan menyusun alasan konyolnya sendiri demi legitimasi dengan banyak terminologi. Hukum. Sejarah. Konstitusi. Atau bahkan, takdir dari Yang Maha Suci. Meski alasan sesungguhnya kerap cuma sekadar keganasan syahwat, yang amat fana.

Karena itu pulalah, barangkali. Rejim yang lahir dari amis darah dan pembunuhan massal merasa perlu terus menjaga rasa was-was, teror, rasa takut, seraya terus menghunus sangkur berbilah-bilah. Kecurigaan--juga dengan demikian: teror, disebar sebagai upacara dan dinas yang memestikan kepatuhan. Setan yang mesti terus diburu pun tak pernah berubah. Namanya selalu sama, komunis, kiri, PKI.

Lalu bagaimana? "Bagaimana" memang telanjur jadi tanda tanya besar buat kita. Sekurangnya setelah kita sadar, bahwa ternyata hidup tanpa konflik adalah sebuah harapan yang terlalu elok. Mungkin cuma di surga kita bisa mendengar hidup tanpa cekcok. Karena itu, orang bisa-bisa saja gotong royong memilih jalan bebal dengan merumuskan teologi permusuhan. Sementara di pihak sana mendisain struktur dan ideologi kebencian. Labirin permusuhan dibangun, dan banyak yang sengaja memerangkapkan diri di dalamnya. Menara-menara dibangun untuk saling mengintai, menyeringai, menghasut, menunggu waktu yang tepat untuk meluncurkan lembing, menarik pelatuk.

Tetapi. Beruntunglah bahwa ternyata sejarah tak melulu mewariskan perihal-perihal tragis dan ngeri. Perkara baik itu terjadi di India, ketika Mohandas Gandhi yang keluar masuk penjara tak serta merta muntab dan menggelorakan dendam setelah kemerdekaan digapai. Atau ketika Mugabe yang melancarkan gerilya terhadap rejim apartheid sama sekali tak mengogahi orang berkulit putih jadi panglima perang Zimbabwe setelah pasukannya berhasil meneguhkan kemenangan di tanah Rhodesia.

Cerita-cerita semacam itu memang sangat indah, meski sangat jarang terjadi. Kisah yang hendak menyampaikan bahwa, kemampuan mengelola rasa sakit dan benci ternyata menyimpan pesan yang amat kudus. Di tengah kesanggupan dan ketangguhan untuk membasmi, untuk membalas, untuk meneror. Dan kita tiba-tiba teringat, bahwa manusia pelan-pelan beranjak makin bertambah renta. Akan ada anak dan cucu yang kita gelayuti kecemasan. Kita bisa memilih untuk tak menceburkan mereka dalam labirin dendam, kecemasan, rasa takut, dan siklus kekerasan yang tak putus-putus. Kita memilih kekuasaan yang bukan lahir dari darah terkucur, meski cuma sepercik. Karena akhirnya kita teringat pesan si Kurdi Saladin--lelaki yang kenyang dengan perang dan penaklukan--pada anaknya.

"Jangan sekali-kali tumpahkan darah, sebab darah yang terpercik tak akan pernah tertidur."



________________________________

Sumber gambar: www.bruteprop.com


0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home